Pages

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Categories

Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Agustus 2017

Riwayat Singkat Habib Lumpangi - Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf


Penulis : Saadillah Mursyid


Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Tepatnya di wilayah Kecamatan Loksado. siapa yang tak mengenal pesona alamnya yang masih asri, rindang dan sejuk. Air Terjun Haratai, Riam Hanai, Rampah Menjangan dan bamboo rafting-nya. Tentulah pelancong baik dari Kalimantan Selatan maupun nasional dan internasional juga mengenal Loksado. Lantas, siapa yang menyangka saat kita menaiki rakit dari paring (bambu) dari Loksado hingga Lumpangi tentulah melewati jembatan ayun yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju alkah pemakaman para Habaib zuriyat Rasulullah saw. yang berada di bawah Bukit Langara yang lebih dikenal dengan Pemakaman Habib Lumpangi. Di sanalah terdapat kubah utama yang apabila masuk lokasi pemakaman Habib Lumpangi langsung berjumpa dengan Kubah Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf. Berikut penulis akan mengulas sedikit riwayat beliau.

Biografi Habib Abu Bakar Assegaf
Sayyid Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf atau yang lebih di kenal dengan nama Habib Lumpangi adalah salah satu ulama berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Hulu Sungai Selatan. Nama Habib Lumpangi diperoleh karena beliau mensyi’arkan, menyebarkan, dan mengajarkan agama Islam atau berdakwah di Lumpangi, tepatnya di KM.21 kampung Pantai Ulin (dulu Balai Ulin), desa Lumpangi, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Kubah Habib Abu Bakar Assegaf
Menurut cerita tetuha masyarakat setempat, kakek-kakek mereka sempat hidup sezaman dengan Sayyid Abu Bakar tersebut, ketika warga Kampung Hamawang banyak yang menghindar dari kesewenangan penjajah Belanda dan memilih menetap menjadi orang gunung di Kampung Lumpangi. Disebutkan bahwa perawakan beliau tinggi besar dan memiliki janggut yang panjang sampai ke dada.

Beliau adalah keturunan Habib zuriyat Rasulullah dengan marga Assegaf yang berasal dari Hadramaut, Yaman, Yordania yang berhijrah ke Lumpangi. Assegaf adalah salah satu fam atau marga dari keturunan Rasulullah saw. melalui jalur Sayyidina Husein AS.  Assegaf, dalam arti bahasa arab adalah 'atap' yg bermaksut atapnya para wali, atapnya para fam/marga, karena auliya' terbanyak, termashur, dan terkemuka dari assegaf, fam/marga lain terbanyak pecahan assegaf, Pendahulu-nya yaitu Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf yang mana juga dijuluki Muhammad faqih al-muqaddam tsani.

Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf adalah seorang yang alim lagi berpengaruh di Hulu Sungai Selatan. Beliau menuntut ilmu agama dan ilmu lainnya dari guru beliau yaitu ayah dan kakeknya sendiri yang bernama Habib Hasan dan Habib Husin rahimahullah.

Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf hidup di paroh akhir abad ke-18 M. Menurut angka tahun di nisan beliau, tercatat wafat pada tahun 1902 M dalam usia dewasa.. Beliau bermakam di Alkah Balai Ulin Desa Lumpangi Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan (masuk gang samping masjid Jannatul Anwar sekitar 300m). Menurut folklor setempat, pembawa agama Islam yang pertama di wilayah pegunungan meratus adalah Habib Idrus bin Hasyim bin Muhammad Assegaf beserta saudaranya yang bernama Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf yang sekarang bermakam di Desa Taniran Kubah 500 meter dari makam Syaikh Tuan Guru Haji Muhammad Thaib atau Datu Taniran.

Para zuriat Rasulullah saw. tersebut konon berasal dari Hadramaut, dan menginjakkan kaki pertama di Bandarmasih (nama lama Kota Banjarmasin). Setelah sempat beberapa waktu menetap dan memperistri seorang warga di kota Bandar itu yang melahirkan seorang putra bernama Habib Ali bin Idrus Assegaf, Habib Idrus beserta keluarga tersebut kemudian berpindah ke wilayah Banua Anam, tepatnya ke kampung Lumpangi. Konon, perjalanan ke kampung tersebut pada waktu itu ditempuh hanya dengan berjalan kaki dari kota Bandarmasih.

Haul Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf biasa dilaksanakan oleh ahlul bait beliau pada tanggal 17 Dzulhijjah di kubah beliau.

Pemikiran dan Kiprah Habib Abu Bakar Assegaf
Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf adalah ulama dengan mazhab Syafi’I yang mempunyai tariqat atau berkidahkan Ahlussunah wal Jama’ah. Beliau sangatlah antusias dalam penyebaran agama Islam di wilayah pegunungan Meratus bersama ayah dan paman beliau. Diantara desa-desa jamahan beliau dalam penyebaran agama Islam adalah Halunuk, Panggungan, Malinau, Muara Hatip, Tanuhi, Hulu Banyu hingga pelosok Loksado.

Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf  memiliki gambaran jama’ah dakwah yang mirip dengan wali songo di Tanah Jawa. Di kampung Lumpangi kala itu masih berupa kehidupan Balai, yaitu Balai Ulin; dan di sana terdapat tokoh yang disebut penghulu Balai yang terkenal dengan kemampuannya mengobati orang sakit. Ternyata, kemampuan medis habib yang baru datang ke wilayah itu lebih tinggi darinya, sehingga warga Balai sangat terkesima dan akhirnya mau menerima Islam. Bahkan, disebutkan bahwa di antara tokoh habib itu ada yang menikahi puteri penghulu Balai Ulin. Sedangkan warga Balai yang enggan menerima Islam akhirnya menyingkir sampai ke kampung Tanuhi sekarang, meskipun akhirnya terus didatangi oleh para habib sampai beroleh kesepakatan bahwa Tanuhi merupakan batas wilayah Islam, karena warga Balai yang tetap dengan agama leluhurnya semakin menyingkir ke kampung Loksado.

Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dalam berdakwah tidak sama sekali menggunkan cara kekerasan. Beliau berdakwah dengan cara lemah lembut dan santun yang mana mencerminkan akhlak Rasulullah saw. Menjadikan Islam mudah diterima oleh masyarakat pegunungan Meratus. Setelah sekian lama berdakwah dengan sabar dan perlahan tapi pasti, semakin banyak warga masayarakat setempat yang dulunya tidak beragama (atheis) dan Kaharingan memeluk agama Islam.

Kampung Lumpangi pun berkembang pesat, dan setelah berhasil beradaptasi dengan masyarakat sekitar, beliau memulai berdakwah secara lisan di kalangan warga mengenai akhlak dan amaliyah serta ajaran lainnya. Setelah diterima dengan baik oleh warga Lumpangi, mereka pun bersemangat untuk mempelajari agama Islam. Sedangkan rumah yang dipergunakan tempat mengajar dan berdakwah di Kampung tersebut yang semula hanya dihadiri oleh beberapa orang saja lama kelamaan menjadi penuh, karena warga setempat makin bertambah yang menerima Islam. Kemudian, dibangunlah mesjid dengan konstruksi yang sangat sederhana, yaitu bertiangkan kayu Sungkai, berdinding Kajang, dan beratapkan rumbia. Mesjid inilah yang kemudian dikenal bernama Jannatul Anwar.

Menurut pendapat masyarakat setempat warga yang mengikuti pengajiannya tak hanya dari Loksado tetapi juga dari daerah lain seperti Kandangan , Barabai, Nagara, Amuntai dan berbagai daerah lainnya.


Peninggalan Habib Abu Bakar Assegaf
Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf pada masa beliau tinggal di Batu Tangah (tidak jauh dari Pantai Ulin) sempat memperistri seorang wanita (yang sampai sekarang masih belum penulis dapati namanya). Dan mempunyai dua orang anak, yaitu Habib Husin dan Habib Ahmad. Keturunan-keturunan beliau sampai sekarang tersebar di Hulu Sungai Selatan diantaranya di Taniran, Kandangan Hulu, Biluy, Muara Banta, dan yang paling banyak di Telaga Bidadari, Kecamatan Sungai Raya. Diantara nama-nama keturunan beliau yang sampai sekarang masih hidup adalah Habib Aziz (Muara Banta), Habib Yahya (Telaga Bidadari), Habib Yadi (Muara Hatip).

Mesjid Jannatul Anwar Lumpangi
Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf tidak diketahui apakah memiliki peninggalan-peninggalan tertulis. Hanya yang nampak dapat kita temui adalah Mesjid Jannatul Anwar yang bertempat di Jalan Brigjend H. Hasan Basry Desa Lumpangi (simpang tiga arah Batu Licin). Mesjid tersebut merupakan satu-satunya peninggalan beliau yang dibuat pada masa beliau berdakwah di Lumpangi bersama dengan ayah dan paman beliau.

Adapun karamah yang dimiliki Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf menurut penuturan Habib Aziz, pada zaman penjajahan Belanda baru datang di Kandangan yang berniat untuk mengusir beliau, Belanda mengajak beliau untuk beradu ilmu dengan perjanjian apabila Habib Abu Bakar kalah harus pergi dari tanah Kalimantan atau kembali ke Hadramaut. Habib Abu Bakar menerima tantangan tersebut dan apabila Beland yang kalah maka pihak Belandalah yang pergi dari tanah Loksado dan jangan mengganggu dakwah beliau. Pihak Belanda menyetujui dan bertanya kepada Habib Abu Bakar, “Ikan apa yang sekarang berada dan ramai di Belanda?”. Habib Abu Bakar kemudian memetik buah nyiur (buah kelapa) dan membelah buah nyiur tersebut. Maka muncullah seekor ikan dari dalam buah nyiur tersebut yang dimaksud orang Belanda. Sesuai dengan perjanjian maka pihak Belanda mundur dan menjauh dari wilayah dakwah Habib Abu Bakar.

Pernah juga terjadi setelah wafatnya Habib Abu Bakar sebagian prajurit pahlawan Bumi Pahuluan melarikan diri ke kubah Habib Abu Bakar saat dikejar Belanda. Karena menurut kepercayaan oranng-orang tersebut Habib Abu Bakar dapat menolongnya wlaupun sudah wafat. Kepercayaan merekapun akhirnya terbukti, saat mereka ditempaki oleh Belanda taka ada satu pelurupun yang mengenai mereka.


Sumber :
Wawancara biografi Habib Abu Bakar Assegaf  dengan Habib Aziz di rumah beliau, Perumnas Muara Banta Kandangan
Ahmad Harisudin. “Islam Loksado dan Sayyid Abu Bakr bin Hasan Assegaf”.  https://banjarhulu.wordpress.com/2011/02/20/islam-loksado-dan-sayyid-abu-bakr-bin-hasan-assegaf/. 

Tim wawancara:
 - Sanderi
 - Rahmat Hidayat

Selasa, 25 Agustus 2015

Kisah Bahasa Banjar : KARINDANGAN

      Urang bahari mamadahi anak bibinian atawa anak lalakiannya, kalau mamancuk jangan kada bauyah, kaina karindangan surangan, urang nang dicintai kada tahu-tahu, kada taucapakan dipandam ja surang. Itu ujar urang bahari, bujur kadanya kita kada tahu, apakah hanya sakadar mitos.
      Dipikir-pikir kadada hubungannya antara mamancuk kada bauyah lawan karindangan surangan. Tapi kalau dipipikirankan pulang pinannya ada jua hubungannya, urang nang mamancuk kada bauyah jalas kada nyaman, ada nang kurang gitu lu. Nah hubungannya mungkin kabiasaan urang mamancuk tu ada pasangannya yaitu uyah, nah karana kabiasaan mamancuk kada bauyah lalu jadi kada manyaman, jadi do'a ai bila surang handak urang kada handak, urang handak surang kada handak. Pas iiyaan hati batagar mahandaki bibinian atawa lalakian lalu karindangan surangan nai.
      Cinta datang kada disangka, cinta bisa jua datang dari pandangan partama alias pamulaan batamu. Bisa jua karana kararancakan batamu ahirnya jatuh cinta. Cinta itu anugrah, bila cinta sudah hadir ka dalam jiwa, dunia tarasa indah kalau cintanya barbalas kada batapuk sabalah tangan. Namun cinta bisa jua jadi siksa kala cinta tak barbalas.
      Satiap urang pasti suwah marasaakan jatuh cinta, kayaitu juwa Utuh Badrun, gadis nang dihandakinya bangaran Aluh Melati, sasuai lawan ngarannya, urangnnya putih, rambutnya maikal mayang, hidungnnya mancung, bibirnya tipis mangulit bawang, awaknya tinggi samampai, pinggulnya aduhai, urangnya pangurihingan, pukuknya siapa nang malihat pasti mangagumi kabungasan Aluh Melati.
      Saban hari, satiap saat Utuh Badrun inya kaganangan lawan aluh Malati, utuh baastilah inya duduk di ambin manjagai Aluh kalu pina liwat. Bila Aluh liwat di muka rumahnya Utuh marasaakan jantungnya gadugupan batambah kancang, tapi Utuh hanya bisa maitihi Aluh nang liwat di muka rumahnya, marawapun inya kada wani, maklum Utuh Badrun urangnnya panyupan.
      Bila malam hari, Utuh lawas hanyar taguring, matanya cagat kaatas, mamikirakan, mangganangakan kabungasan Aluh. Inya manggarunum surang, sambil bapantun nang dilaguakan kaya urang mambaca syair
   “Kucing kurus mandi di papan,
   mandi dipapan sikumbang jati,
   awak kurus bukannya kada makan,
   awak kurus karna sijantung hati.
   Tiup api di gunung Lidang,
   Abu-abunya kutampi juwa,
   maksud hati salagi bujang,
   balu-balunya kuhadang juwa”
     "Aluh Malati, Aluh Malati, bauntung banar kalau aku dapat manyuntingmu jadi bini, tapi aku kada wani Luhai, ikam urang sugih, aku urang miskin, ikam urang bapandidikan aku kahada, ibarat handak mamaluk gunung apadaya tangan kada hampai, ibarat pungguk marindukan bulan. Tapi, aku kada kawa Luhai mangusir bayang wajahmu, waktu makan, waktu minum aku kagadangan lawan ikam, waktu bakakawanan aku kaganangan lawan ikam, apalagi waktu malam sunyi mataku kada kawa dipijimakan aku salalu ingat lawan kurihingmu nang manis, tutur sapamu nang santun, aduhai Aluh kanapa jua aku ini, ohh… adakah juwa sakit karindanganku ini akan taubati." Jar Utuh gagarunum mangganang Aluh Malati.
     Malam tarus marangkak, tapi mata Utuh balum juwa mau bapajam, jam dinding sudah manunjukkan angka dua, Utuh Badrun bangun dari tampat kaguringannya, lalu inya maambil air wudhu, sambahyang tahajjud, limbah sambahyang inya munajat kapada Allah banyu mata Utuh Badrun mangucur daras, sakit rasanya hatinya mananggung rasa yang sangat mandalam, mungkin sudah mandarah daging, ngalih sudah dibuwangi. "Ya Allah aku tahu parasaan ini Engkau nang mambarikan parasaan ini lawan diulun, bimbing ulun Ya Allah." Utuh maingui manangis. "Kalau mimang Aluh Malati itu juduh ulun, bari inya juwa parasaan yang sama lawan diulun, Mun mimang bukan juduh ulun Ya Allah bari ulun katabahan manjalani cubaan cinta yang Engkau bari ini, sanggupkah ullun Ya Allah hidup tanpa kahadiran Aluh. Awak ulun sudah kurus nang kaya ini karana mangganang inya, mungkinkah inya handak juwa lawan diulun yang sudah kurus ini, ya Allah, ulun tahu bapacaran tu kada bulih, kadada dalam Islam, makanya ulun kada handak mautarakan parasaan ulun ini lawan Aluh. Handak malamar ulun kada wani ya Allah. Ya Allah salahkah urang miskin mancintai urang yang sugih, salahkah ulun Ya Allah. Kalau mimang salah ampuni ya Allah." Itulah munajat yang Utuh Badrun sampaikan dikeheningan malam.
      Kaisukan harinya Utuh mandapat patunjuk, supaya inya bausaha mamparjuangakan cintanya, Inya lalu bapadah lawan kuwitannya Asyikin atau Julak Ikin.
     “Bah ulun ti bahai karindangan lawan Aluh Malati nang rancak liwat di hadapan rumah kita, cuba pang Bah pian badatang karumah kuitannya, lamarakan sagan ulun, ulun pang rasa kada tahan lagi maarit parasaan ulun ini.” Ujar Utuh Badrun baucap lawan abahnya.
     “Tuh..! abah hakun haja mandatangakan ikam, tapi sudahlah ikam pikir masak-masak, ikam sudah tahu kaadaan kita nang kayamapa. Kaluarga kita kada sabanding lawan kaluarga urang, kita urang miskin, urang kaluarga sugih, mun handak juwa cari nang sapadan lawan kita.” Jar abahnya mambari pangartian lawan Utuh.
     “Ulun sudah juapang mamikirakan napa yang pian pikirakan, tapi kadada salahnya kita mancuba, mun urang manulak jua apa bulih buat, artinya kita sudah bausaha”.
     “Ada dua kamungkinan nang harus ikam pikirakan nakai, mun ikam ditarima juwa nakai, lalu jadi kawin juwa lawan inya. ikam harus siap sakit hati, karna biasanya urang sugih mun agamanya kada mantap nakai, nang dipikirakannya nang dibangga-banggakannya hartanya haja, mun ikam bahual laki-bini kaina, pasti inya baucap napa nang ikam bawa kasini, hanya mudal dangkul dan sapuluh jari, lawan rudal nang sabuting ngitu. Itu parlu jua ikam juju ikam pikirakan! Mun ikam ditulak, ikam harus siap juwa sakit hati, baarti Allah handak mambari nang labih baik lagi manurut pangatahuan Allah, karana apa yang kita cintai balum tantu baik manurut pandangan Allah, dan apa yang kita banci dan kada kita sukai bulih jadi baik untuk kita manurut pandangan Allah”. Jar Abahnya Utuh.
     “Inggih bahai, ulun sudah siap mananggung risikunya”. Jar Utuh Badrun mantap.
     “Mun ikam sudah yakin, sudah mantap kayaitu, abah juwa siap batatang”.
Malam jumahat Abahnya Utuh laki bini badatang karumah kuitannya Aluh Malati, sidin dua laki bini disilahkan duduk, lalu ditakuni
     "Napa habar pian datang ka sini" Jar H. Kaspul abahnya Aluh
    "Habar baik, kami datang kasini handak batakun.. jukung nang ada dirumah ini sudah ada kah nang manalii, kami handak jua umpat batanam pisang di sini." Ujar Julak Ikin mautarakan maksud katangan sidin mamakai bahasa ibarat.
     “Uh, kaya itu kah"
     Samantara itu di rumah Utuh Badrun bulang bulik bajalan di rumahnya, mahanu duduk, kada lawas duduk inya badiri, inya mamikirakan ditarimakah kada lamarannya. Ya Allah mudahan ditarima, ya Allah kabulakan ya Allah hajat Ulun.
      “Kami sakaluarga batarimakasih lawan sampian atas katangan sampian mailangi kami”. Jar H. Kaspul
     “Kada usah babasa basi abahnya ai" jar Hj. Ipat mambisiki nang laki “Tulak haja, kada sudi aku babisan lawan urang miskin, hei…” Sambil bakirik. Julak Ikin sudah bisa mambaca galagat nang kada nyaman dari raut muha Hj. Ipat, tapi sidin tatap bausaha tanang, dan manahan parasaan sidin.
     “Kaya ini lah, jukung nang ada di rumah ini balum ada pang nang manalii, tapi kami barunding dahulu, lawan kami harus tahu juwa kaya apa pandapat Aluh Malatinya, kami kada kawa mamutusakan malam ini”.  H. Kaspul baucap lamah lambut, supaya urang kada tasinggung atawa sakit hati.
     Tapi nang bangaran Hj. Ipat sidin kada kawa maharit bila sidin kada katuju, disisitu jua diucapakan sidin.
   “Maaf pang lah, bujur haja Aluh Malati balum ada nang malamar tapi kami sudah barancana manjuduhakan lawan anaknya H. Marwan, jadi supaya kada tabulik-tabulik pamandiran kita, kita putusakan malam ini jua, aku dahulu saikung kada manarima, mangartiai kalu sampian”. Jar Hj. Ipat baucap nang cukup manusuk parasaan Julak Ikin lawan bini sidin.
     Lalu Julak Ikin baucap sambil bausaha manahan sakit hati sidin, namun suara sidin pina manggatar.
    “Inggih kami mangarti banar, kami dasar urang miskin, kada pantas rasanya badampingan lawan urang sugih, tapi kami manulusakan hati anak kami yang karindangan banar lawan anak sampian, kami sudah mambari pangartian lawan inya tapi inya tatap jua manyuruh kami badatang”.
    "Uu, abahmu kita bulikan ha lagi, manyakiti hati banarai balawas-lawas di sini" Jar bini Julak Ikin mambisiki laki sidin.
      Mandangar pamandiran abahya Utuh, Aluh Malati nang mahintip, mandadangarakan di balakang dinding, inya manangis, tarnyata cintanya kada batapuk sabalah tangan, rupanya Aluh baisi jua parasaan nang sama lawan Utuh Badrun. Inya manangis lantaran umanya baucap kasar lawan kuwitan Utuh Badrun, dan kadada harapan cinta buhannya basatu.
     “Umayahai…. mama purunnya pang sidin baucap nangkaya itu, balum lagi manakuni lawan diulun sudah mamutusakan kayaitu, manjuduh-judahakan ha pulang lawan anak H. Marwan.” Ujar aluh baucap dlam hati sambil titikan banyu matanya.
     H. Kaspul kada kawa manangati nang bini, walau sudah maisyarat lawan mata sidin supaya nang bini paham, jangan sampai bapandir manyakiti hati urang. Balum sampat Julak Ikin lawan nang bini minum banyu nang dibawakan Aluh Malati, sidin badiri sambil baucap :
     “Mun kaya itu, kita sudahiyai pamandiran kita sampai di sini, kami muhun pamit, sampayakan salam kami lawan anak sampian, dan padahakan lawan inya Utuh Badrun karindangan banar lawan inya, cinta banar lawan inya, sampai tagaring-garing”.
     Mandangar kaya itu Aluh samakin maingui, maisak, balilihan banyu matanya kada kawa diarit-arit. Julak Ikin laki bini bulikan, langsung manunti Utuh Badrun nang sudah mahadangi di rumah. Utuh malihat muha kuitannya pina masam, marangut, inya sudah bisa manyimpulakan pacang mandangar habar nang kada nyaman. Tapi inya sudah siap apapun nang akan tarjadi.
      "Nak sudah abah padahakan lawan ikam, kita kada pantas bawarang lawan urang sugih, sakit hati kuitan ikam diucapi urang yang sakasar itu, ditulak bahahadapan, rasa ditapas nakai muha kuitan ikam, mulai wayahini buang parasaan ikam lawan aluh Malati." Jar Julak Ikin maucapi Utuh Badrun.
      Mandangar pamandiran Abahnya, Utuh maragui rabah. Mulai wayahitu inya kada hakun makan.
     Satangah bulan sudah, Utuh barabah diranjang, mananggung rindu, cinta dandaman yang kada mungkin lagi dihilangakan di hatinya. Ditambah inya mandangar habar Aluh sudah dilamar kaluarga H. Marwan, maginnyaai hati Utuh batambah padih, sakit bagai disayat sambilu.
      Hari ini Ahad, Aluh akan basanding di palaminan lawan Utuh Jarni, anak H. Marwan. Rupanya hari itu Utuh Badrun saulah dibari kakuatan yang dakhsyat, inya kawa babangun, inya handak badapat lawan Aluh Malati, maksudnya itu dikabulakan kuitannya.
      Di tangah mariahnya urang maucap doa rastu hagan kadua mampalai, Utuh Badrun hadir dangan linang air mata, mata yang sudah cakung, awak yang sudah ringkih dimakan rindu karindangan, lalu inya baucap lirih.
    "Duhai Aluh Malati, aku rila dunia akhirat ikam balaki, namun, parlu ikam tahu aku akan tatap mancintaimu, biarlah ku bawa rinduku, cintaku, sampai ajal manjamputku. Luh aku mancintaimu".
      Imbah baucap mautarakan parasaannya di hadapan Aluh dan lakinya, Utuh Badrun maragui rabah,  dan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
     Lalu Aluh Malatinya bukah manyasah ka wadah Utuh Badrun, inya asa kada parcaya Utuh mati, ditinggalkan lakinya nang masih di palaminan. Lalu ai Aluh langsung maragap ka mayat Utuh lalu ba ucap "Ulun gin mencintai pian jua ka Utuh ai, tapi ulun kada badaya karna kuitan ulun." Sambil barubuian banyu mata "Cinta pian terbalas tapi kada didunia melainkan di akherat."
     Urang nang saruan gen umpatan jua titik banyu mata malihat sapasang insan nang terpanjara cinta. Kuitan Aluh Melatipun pina ada manyasal malihat anaknya pina kaya urang gila manangisi mayat di hadapan urang banyak. 
       Lalu apa nang tarjadi, pas rahatan abut di pangntin bahwa Utuh Badrun mati sampai katalinga kuitan Utuh, mahancap kuitannya manunti ka acara kawinan. Pas hudah sampai langsung lamah lintuhut malihat anaknya si Utuh Badrun kada bagarak sambil dipaguti wan Aluh Malati. lalu abahnya baucap "Hann Luh, tahu kalu ikam bahwa Utuh ngini dasar cinta wan ikam tapi kada kawa manyampaikan nya kaadaan kami nang miskin nang rancak dihina wan kuitan ikam. Kami ni sadar haja pang kadahada nang kawa dibanggaakan."
      "Sudah paman, cukup kada usah lagi pian bapandir ulun kada kawa mandangar lagi." Ujar Aluh sambil lilihan banyu mata. "Ulun gin sabujurnya mancintai kaka Utuh jua paman ai. Tapi ulun takutan wan kuitan ulun, manantang kalu katulahan jadi ulun apa ujar kuitan ulun haja paman ae." Sambil baisak, barubuyan banyu mata Aluh.
       "Ayuhaa sudah.. nang sudah tu sudah ai lakasi ikam basanding, tu laki ikam malihati banar." Ujar abah utuh.
      Lalu pina lamah awak sambil badiri Aluh bajalan bagamat handak mamaraki palaminan, nang ngaran mata lain, hati lain leehhh ada-ada haja kahandak pas tajajak baju pangantinnya saurang nang panjang baparir ka lantai tu, tajarungkup Aluh lalu tahantup biding palaminan ulin kapalanya badarah, pas mati jua Aluhnya.. hann kajadian ti kalu, kada itih pang mata.
Lalu ai nah judulnya baganti wan "Akhir Cinta di Palaminan"
Hihihi :D

Kamis, 11 Desember 2014

Dewasa dan Kedewasaan


A.    Pengertian dewasa
Ada beberapa macam pendapat yang dikemukakan oleh beberapa orang yang saya tanyai. Yaitu :
Menurut Wikipedia ensiklopedia bebas Istilah dewasa menggambarkan segala organisme yang telah matang, tapi lazimnya merujuk pada manusia. dapat didefinisikan dari aspek biologi yaitu sudah akil baligh, hukum sudah berusia 16 tahun ke atas.
Menurut Nuriatul Ummi (Mahasiswi UNLAM prodi PLB), dewasa adalah orang yang mampu menempatkan diri pada yang semestinya, bisa berfikir kritis dan logis tentang suatu hal, dan mampu mengendalikan egonya.
Menurut Yuli Sugiarti, S.Pd (Guru BK), dewasa adalah seseorang yang mempunyai cara pandang dan cara berfikir yang selalu positif, mempunyai emosi yang tenang (tidak labil).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan dewasa adalah orang yang dapat membedakan antara yang Haq (benar) dan yang Bathil (salah) untuk dirinya sendiri dan orang lain.

B.     Faktor penyebab kedewasaan
Faktor-faktor penyebab seseorang menjadi dewasa hanya ada dua, yaitu internal dan eksternal.
a.       Faktor Internal
Faktor internal adalah factor yang datang dari dalam diri seseorang, sifatnya adalah keinginan atau hasrat yang muncul dan datang atas keinginan orang itu sendiri. Biasanya factor ini berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhannya, seperti :
1.      Renungan diri atas kejadian yang pernah terjadi di masa lalu (kesalahan).
2.      Kesadaran bahwa hidup tidak cuma mengejar kebahagiaan dunia.
3.      Hasrat/dorongan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
b.      Faktor Eksternal
Factor eksternal adalah factor yang datang dari luar, bukan dari dirinya sendiri, melainkan karena orang lain atau lingkungan sekitarnya. Factor eksternal ini juga sangat besar pengarunya terhadap kedewasaan seseorang. Karena manusia adalah makhluk social, jadi tidak mungkin manusia hidup sendirian tanpa kelompok (keluarga/teman). Factor ini berupa :
1.      Lingkungan keluarga, kedewasaan seorang dapat muncul atau tidak muncul karena pendidikan yang diberikan oleh keluarga. Cenderung apabila seseorang mempunyai anak, anaknya akan tidak jauh beda dengan orang tuanya. Seperti pepatah “buah tidak jauh jatuh dari pohonnya”. Semestinya orang tua harus memberikan pendidikan yang benar terhadap anak.
2.      Lingkungan pergaulan, pergaulan atau pertemanan merupakan aspek sekunder yang harus diperhatikan untuk kedewasaan seseorang. Teman yang di sekitar atau dekat kita dapat mempengaruhi cara berfikir kita, cara bertindak kita, dll. Ada yang mengatakan “orang yang tidak menjual wewangian (minyak harum) akan berbau harum kalau berteman dengan orang yang menjual wewangian (minyak harum).
3.      Masalah, masalah biasanya didapatkan karena adanya interaksi dengan orang lain. Apabila seseoarang dapat berada di atas masalah dengan cara yang positif. Dia akan menjadi orang yang lebih dewasa. Karena kita dapat belajar dari pengalaman.

C.     Ciri dewasa
Seseorang sudah bisa dikatakan dewasa jika :
1.      Dapat membedakan antara yang benar dan yang salah,
2.      Dapat berfikir positif,
3.      Memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri,
4.      Dapat menjadi tanggung jawab bagi orang lain,
5.   Dapat mengontrol emosi (ego diri).


by SMursyid

Selasa, 29 April 2014

Sandi Ambalan Hj. Rahmah Bahran

Sandi Ambalan Hj. Rahmah Bahran adalah Sandi Ambalan dari Gugus Depan 0504 Pangkalan SMAN 2 Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Berikut Sandi Ambalan Hj. Rahmah Bahran :

Keyakinan itu pasti adanya
Tertanam di atas pondasi kejujuran
Tancapkanlah relung kalbumu pabila kamu praja yang sejati
Berdiri diatas kebenaran dan keikhalasan
Tiada lawan yang paling keji selain nafsumu
Karnanya apa arti dari perjalanan hidup tanpa tanah kelahiran
Haus baktimu

Jangan sekalipun berpikir tuk menduakan muka
Pantang bagimu bersinar dalam gulita saudaramu
Kita diciptakan-NYA untuk menjadi kesatuan
Harta, keturunan hanya menjadi masalah keduniaan
Amal dan baktilah penentunya

Panti asuhan Amawang Kiri itu suatu bukti
Rumah Sakit di Gambah Dalam, Gedung Wanita Tonggak Andil panutanmu
Gembira dan sengsara adalah warna hidup
Di tengah riang jangan tuli atas jerit di sekitarmu
Di saat luka jangan pernah kau goyahkan iman-mu

Jangan sekali-kali kau sulut bara yang menyala
Perjalanan masih teramat panjang
Susun langkah, tekad dan cita dalam kebersamaan
“Hancur, ramuk jalani barataan”
Rakat mufakat nang jadi ganggaman
Itulah kahandak dari Ambalan kita Hj. Rahmah Bahran

(DISADUR SESUAI DOKUMEN ASLINYA)

Sandi Ambalan Pangeran Bukhari

Sandi Ambalan Pangeran Bukhari adalah Sandi Ambalan dari Gugus Depan 0503 Pangkalan SMAN 2 Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Berikut Sandi Ambalan Pangeran Bukhari :

Kasih sayang dan saling menghargai itu suatu keagungan
Tulus, ikhlas dan beramal
Dan tolonglah orang yang memerlukan bantuan kita
Janganlah sekali-kali terlintas dalam hatimu untuk berbuat “Puput Diluar, Rincung Di Dalam” atau yang berarti suatu kemunafikan

Ingatlah kenikmatan tulus Dewa Ruci di palka-palka pinisi yang selalu mengumandangkan lagu-lagu kesatriaan dan kagagahan
Oleh karenanya, mun kita sudah babulat hati mamusuhi Walanda, bamusti-musti baikat hati wan tali sindat
Lamun sakali-kali handak mancari muha lawan Walanda, tujuh turunan kada ku sapa

Dengarlah…..
Desa Hantarukung bukti Satria Tumpang Talu berbudi
Pandanglah….
Benteng Tarapung ku tamara, Gunung Madang , Batu Laki, Batu Bini saksi abadi perjuangan urang-urang bumi pahuluan

Dalas bangkit naga kubangun mun mundur kada
Dalas  balangsar dada mun mundur kada
Terimalah apa yang ada sebagai pemberian dari Tuhan yang membawa berkah kepada segala kuasa sebagai rasa syukur kekanakan bumi pahuluan

Itulah kahandak sandi ambalan kita Pangeran Bukhari.

(DISADUR DARI DOKUMEN ASLINYA)


Kamis, 05 Desember 2013

Lambang Logo AMBALAN SMA Negeri 2 Kandangan


Makna Lambang :

   Gambar
Bintang : Kekuatan yang bersumber dari Ketuhanan Yang Maha Esa
Perisai Segilima : Kekuatan dan perlindungan atas dasar 5 sila (Pancasila)
Tunas Kelapa : Menandakan Gerakan Pramuka
Pita Putih : Semangat yang terus berkibar di dada warga sekolah/peserta didik yang dilandasi oleh putihnya hati dan sucinya pikiran
Padi dan Kapas : Cita-cita untuk terpenuhinya sandang, pangan, dan papan untuk kepramukaan

   Warna
Segitiga Biru : Kepercayaan pada kesejukan Trisatya
Kuning : Kebenaran dan Keagungan
Cokelat : Menggambarkan bumi yang hangat, nyaman dan aman

Lambang ini dibuat pada tahun 2013 lalu oleh seorang siswa dari SMA Negeri 2 Kandangan yang mana juga salah satu anggota Dewan Ambalan Gudep 0503-0504 Pangkalan SMAN 2 Kandangan yang memegang jabatan sebagai Wakil Ketua Ambalan putra SMANDAKA periode 2013-2014. Yaitu saya sendiri, Sa'adillah Mursyid dengan persetujuan dari Pembina Pramuka SMAN 2 Kandangan Pa Atmo Patria, SE, M.Pd dan Bu Sri Heldawati, S.Pd. serta Ka Mabigus selaku Kepala SMAN 2 Kandangan Ibu Jauhartati, S.Pd, M.Pd. pada waktu itu.

Baca juga :

Rabu, 13 Februari 2013

Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani


Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya. Saat kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, diamengambil sebuah toples mayones kosong yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf. Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia mengguncang dengan
ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang kosong di antara bola-bola golf. Kemudian dia bertanya pada para muridnya, Apakah toples itu sudah penuh? Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples...
Tentu saja pasir itu menutup segala
 sesuatunya. Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sudah penuh? Para murid dengan suara bulat berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan
  kosong di antara pasir. Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, "
Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu." “Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh." "Batu-batu koral adalah segala hal  lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."

"
Pasir adalah hal-hal yang lainnya - hal-hal yg sepele."

"
Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples,"  lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."

"
Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"

"Jadi..."

"
Berilah perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. Bermainlah dengan anak-anakmu. Luangkan waktu untuk check up kesehatan. 

Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam. Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah,dan memperbaiki mobil atau perabotan."
"Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf - Hal-hal yang benar-benar penting. Atur  prioritasmu. Baru yang terakhir, urus pasir-nya.

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "
Kalau Kopi yg dituangkan tadi mewakili apa?"

Profesor tersenyum, "Saya senang kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat"  :-)

Menakib Almukarram Guru Sekumpul


Menakib Almukarram Guru Sekumpul


Yang dikarang oleh Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Hudhari


Telah berkata Almukarram bahwa nama diwaktu kecilnya adalah Qusyairi,beliau selalu berada disamping kedua orang tuanya dan neneknya yang bernama salbiyah yang memeliharanya dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang hingga tertanamlah ilmu tauhid didalam dirinya.

Sepenglihatan hamba selama masa bergaul bahwa beliau adalah orang berakhlak tinggi lagi mulia walaupun beliau miskin dalam penghidupan namun tiada mengeluh atau mengadu2 kepada keluarganya.


Syahdan dan adalah hal hobinya membaca Alqur'an,itu sudah menjadi amaliyahnya dan pernah mengikuti jamaah alqira dimartapura,termasuk orang yang terbaik dan terkemuka,dan Almukarram adalah orang yanag hafiz Alqur'an.Dan pernah terjadi dikampung melayu tengah dimushalla hamba yang mana pada setiap tanggal 27 pada malam bulan ramadhan mengadakan khataman Alqu'an dan itu sudah menjadi adat turun temurun maka Almukarram Guru Sekumpul di undang oleh tuan Guru H.Anang Sya'rani untuk membacakan Ayat2 suci Alqur'an dikala Almukarram membacakan surat Annur maka banyaklah para hadirin yang kagum dan diantaranya ada yang menangis mengeluarkan air mata karena mendengarkan bacaan beliau.


Dan lagi dari perkataan beliau,dimasa belum baligh dan sampai baligh di pimpin secara ruhani oleh Al-Alamah Ali Janid (barau),dan oleh Al-alamah Al-Fadil H.Abdurrahman Shidik Safat ( tambilahan ),dan oleh Al-Alim Al-Alamah H.Syarwani Abdan ( bangil ) kemudian diserahkan kepada K.H.Abah Falak kemudian Abah Falak menyerahkan kepada Sayyid Muhammad bin Amin Khutbi,dari sayyid Muhammad Amin khutby inilah beliau banyak mendapatkan Syair2 qhosidah dan lagi Almukarram dapat pimpinan ruhani oleh maulana Syech Muhammad Arsyad Albanjari dan selanjutnya langsung dipimpin oleh Sayyidul Ambiya'i wal mursyalin Sayyidina Muhammad SAW.



Disaat beliau berumur 14 tahun dibukakan hijab oleh Allah Ta'ala ketika membaca tafsir Alqur'an "wakanallahu sami'an bashira".dan adalah halnya selalu sabar dan ridha dan kasih sayang dan tidak pemarah dan sangat pemurah,walaupun dipukuli oleh orang yang hasud dan dengki yang jumlahnya banyak namun beliau tidak pernah mengadu2kan kepada orang tuanya atau keluarganya bahkan beliau terima semua itu dengan sabar dan ridho kepada Allah SWT.


Dan hal lagi pernah menembak burung dengan senapan angin,manakala sampai dipadang karang tengah mendengarlah beliau akan suara zikir "LA ILAHA ILLALLAH"maka almukarram terus berjalan naik kekampung karang tengah untuk mencari suara asal suara zikir itu,ternyata zikir itu berasal dari makam Tuan Guru H.Abdullah Al-khotib maka langsunglah beliau berziarah maka setiap tengah malam bulan terang lazimlah beliau berziarah.


Dan pernah pula terjadi beliau melihat seperti lampu strongkeng terang naik keatas kemudian menyeberang turun dimakam kuburan jamaah Tuan Bajut danTuan Biduri,Al-alamah Abdul Wahb bugis dan fatimah,dan dimakam Al-Alamah H.Muhammad Syaid Wali bin Muhammad Amin di karang tengah dan beliau istiqomah berziarah didua makam itu pada tiap2 malam tersebut atau setengah dari karamatnya.


Dan halnya suka bersilaturahim menemui orang2 tua dikampung,dan beliau adalah termasuk orang yang muhibbin cinta kepada orang yang Alim dan orang yang Shaleh seperti Al-Arifbillah H.Zainal Ilmi bin H.somad Albanjari dalam pagar yang mana setiap kali beiau hendak pergi ke banjar pada hari2 tertentu maka Almukarram menunggu2 untuk bersalaman mencium tangan Guru Zainal Ilmi


Dan pada tahun 1958,Almukarram telah berkhadam kepada tuan Guru H.Baruddin di majelis maulud Alhabsy pada tiap malam jum'at dan beliau keluar membawakan jamuan miunuman dimajelis tersebut.,dan di tahun yang sama beliau pernah menemukan hamba (guru Hudhari) didalam kelas hendak meminjam kitab faraid tahafatus saniah utk menyalin menulis.dan pada tahun 1959 guru hudari tamat darussalam,,kemudian pada tahun 1960,Guru hudhari di suruh oleh Tuan Guru H.Semman Mulia untuk balas budi ( mengajar )di darussalam,sedangkan Almukarram Zaini Abdul Ghani baru lulus setahun kemudian,dan teman sekalasnya yaitu Guru Masdar sungai tuan.


Setelah Almukarram Zaini Abdul Ghani tamat di darussalam pada tahun 1961 beliau menueruskan mengaji kitab kepada Tuan Guru H.Sya'rani Arif dikampung melayu kitab fiqih dan tafsir dan disuruhkan mengajar didarussalam martapura.kemudian tidak berapa lama beliau beristirahat dan istiqamah dirumahnya dan beliau membuka majelis maulid sambil membaca kitab2.pada tiap2 malam selasa hadist,dan malam rabu tafsir dan siang hari rabu ihya Ulumuddin.dan beliau suka memberi makan jamuan pada tiap2 setiap tamu yang datang kerumahnya dan suka berhadiah uang kepada siapa yang dikehendakinya apalagi di hari pengajiannya.,dan setiap pengajian hari rabu beliau memberi makanan nasi dan minuman terkadang roti.



Dan lagi perkataan Abah Guru Sekumpul bahwa beliau pernah bermimpi bertemu Sayyidina Hasan dan Husin yang keduanya memberikan pakaian dan memasangkan kepada nya lengkap dengan surban kemudian keduanya memberikan nama “ Zainal Abidin “,setelah bangun beliau menghabarkan akan mimpinya itu kepada ayahnya kemudian ayahnya mengubah nama beliau yang dulunya Qusyairi menjadi Muhammad Zaini.dan lagi dari perkataan beliau bahwa ia belajar mengenai nur muhammad kepada Al-Alim Al-Alamah Muhammad bin Salman Alfarasi (guru Gadung) atas petunjuk dari Al-Alim Al-Alamah Ali janid (barau)dan lagi Almukarram berkata bahwa aku mendapatkan khususiyat dan anugerah dari Allah Swt berupa kasyaf hissi malihat dan mendengar apa2 yang terdinding.


Dan pada ketika sewaktu halnya Almukarram bejalan maka rerumputan,batu dan pohon memberi salam serta menyebutkan manfaat2 dan kelebihan kepada beliau seperti untuk keperluan pengobatan dan lainnya maka itulah setengah dari pada karamah Abah Guru Sekumpul.

Dan adapun Almukarram itu suka menghidupkan kembali amalan2 dan tariqat yang diamalkan oleh maulana Syech Muhammad Arsyad Albanjari.karena itu majelis yang beliau pimpin baik majelis ilmu atau majelis amaliah seperti majelis Syech Abdul Qadir Aljailani yang selalau dipenuhi oleh para penuntut ilmu yang semakin hari semakin bertambah2.baik dari dalam negeri ataupun dari luar negri.


Dan adalah halnya lagi suka membaca maulid nabi SAW setiap malam Senin bersama orang banyak dalam majelis Amaliyah yang mana hadir pada waktu itu jamaah dari berbagai kalangan,baik dari kalangan masyarakat biasa sampai para pejabat rendah dan tinggi.baik didalam daerah maupun di luar daerah yang mana jumlahnya puluhan ribu,hal ini disebabkan karena mereka itu cinta dan sangat menyayangi serta menghormati beliau.

dan pada setiap malam jumat beliau membaca dalail khairat dan qosidah burdah serta maulid Ajab bersama orang banyak sebagai mana malam senin.dan setiap kali beliau membaca maulid rasul (simtudduror) karangan Habib Ali bin Muhammad bin Husin Alhabsysi atau maulid al-‘azab karangan Syech Muhammad Al-‘azab beliau tiada lupa menyertakan pada permulaan atau pertengahan atau penghabisan akan membaca Qasidah2 yang mubarrak dan jarang jarang di tinggalkannya.karena membaca membaca qosidah2 yang mubarrak itu itu memang sudah hobinya sejak kecil.


Dan pada tahun 1992 Almukarram Muhammad Zaini Abdul Ghoni minta bukakan kepada kepada hamba (Guru hudari) pelatihan untuk mempelajari terbang Maulana Syech Muhammad Arsyad Albanjari di sekumpul yaitu Ya Syehona Ya Semman ... hingga berhasil selesai tamat.dan setiap kali mengadakan haul Syech Semman Almadani di mushalla Arraudah maka dilaksanakan dan digunakan terbang besar oleh Abah Guru Sekumpul.


Dan pada tahun 1996 hamba ( Guru hudari) berada dimekkah untuk menunaikan ibadah Haji maka hamba diminta oleh Habib Ahdal mekkah bermalam di rumahnya dan Almukaram telah menelpon kepada hamba menghabarkan bahwa beliau akan mengadakan haul Syech Seman Almadani di sekumpul secara besar2an yaitu haul Akbar.maka hamba sangat terharu dan sewaktu hamba tawaf di baitullah telah nampak hamba melihat dangan nyata bahwa Almukarram Muhammad Zaini Ghani berjalan tawaf dihadapan hamba maka ketika sampai dihadapan hajar aswad tiada dapat hamba lihat lagi akan beliau.kemudian hamba habarkan kejadian itu kepada beliau melalui telpon maka jawabnya jangan dihabarkan kepada orang2 yang terjadi itu,maka didalam lembaran kertas ini terbuka lah kejadian tersebut.


Dan pula adalah halnya suka membina membangun kubah2 seperti dikarang tengah kuburan Tuan Bajut,Tuan Biduri,Al-alim Al-Alamah H.abdul wahab bugis,dan fatimah dalam suatu Kubah dan Kuburan Al-Alim Al Alamah H.Muhammad Sa'id Wali bin Muhammad Amin dan setelah itu kemudian Almukarram telah membeli tanah yang luas spenjang jalan untuk jalanan masuk kubah Al-Alil Al Alamah Fadhil H. Abdullah Alkhotib di seberangannya.


Dan pula halnya Almukarram termasuk pelopor pembangunan komplek pembangunan makam Maulana Syech Muhammad Arsyad Albanjari yang dibangun sejak tanggal 13 safar 1417 H bertepatan tanggal 29 juni 1996 M.bersama dengan pengurus yayasan ikhuwat Zuriat Maulana Syech Muhammad Arsyad Abanjari yang mana pada waktu itu di ketua oleh H.Salmani bin Al-Alim Alfadil H.marzauki bersama H.Muhammad zayadi bin Ahmad selaku sekretaris.


Dan pada perkataan Almukarram sebagai amanah kepada pelaksana pembangunan,kalau handak mengumpulkan dana keuangan cukup menunggu di kubah saja jangan meminta minta atau menjalankan kotak sumbangan.. Alhamdulillah segala gagasan beliau setelah dilaksanakn oleh panitia pembangunan semuanya berjalan dengan lancar dan sumbangan selalu berdatangan baik dari dalam daerah mauapun luar daerah dan dari segala macam kalangan sehingga dalam jangka waktu kurang lebih satu tahun pada tanggal 2 sya'ban 1418 H,bertepatan pada tanggal 2 desember 1997 selesai sekaligus peresmian pembukaan mejelis ta'lim sabilal Muhtadin oleh Guru Sekumpul bersama gebernur H Hasan Aman,pada malam rabu di ruang tengah komplek makam tersebut.


Syahdan AlMukaram Zaini Abdul Ghani dilahirkan di tunggul irang martapura pada malam rabu jam setengah dua,pada tanggal 27 muharram tahun 1361 H. dan telah wafat pada pagi dini hari rabu (waktu subuh) tanggal 5 rajab 1426 H.bertepatan pada tanggal 10 agustus 2005.


Demikianlah hikayat dan riwayat Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul)...


Diambil dari buku Riwayat Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Albanjari yang disusun dan dikarang oleh Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Hudhari bin hasnah binti Al-alim Alfadil H.Abdullah Alkhotib bin AlAlim Alfadil H.Muhammad sholih bin Khalifah H.hasanuddin bin AlAlim Al-Alamah Assyech Muhammad Arsyad Albanjari (datu kelampayan).


Akhirnya saya yang menulis kembali Atas menakib yang dikarang oleh Al-Mukarram Al-Alim Al-Alamah H.Muhammad Hudhari memohon ampun dan maaf apabila ada salah dan khilaf baik yang disengaja atau tidak disengaja karena saya merasa banyak sekali kekurangan dalam diri saya yang hina ini.karena kesempurnaan hanyalah milik Allah Semata dan diperlihatkan oleh Allah ksempurnaan itu Dalam bentuk Rasullullah,Rasulullah lah sebagus bagusnya mahluk....


Semoga Allah menurunkan Rahmat pada kita sekalian baik penulis maupun pembaca agar selalu dilimpahi rahmat serta kasih sayang oleh Allah berkat Abah Guru Sekumpul Amiiiinnn..



Saat-Saat Kelahiran Abah Guru Sekumpul


Bertepatan kedatangan tentara Jepang Tahun 1942 ke Martapura . Fitnah sungguh merajalela, keluarga, Abdul Ghani mengungsikan keluarganya mencari tempat yang paling aman, agar istrinya dapat melahirkan dengan selamat. Dengan sembunyi-sembunyi dibawalah istrinya yang sudah hamil tua tersebut, bersama ibu (Salabiah), dengan menggunakan jukung (perahu kecil) melewati sawah dan sungai menuju Desa Tunggul Irang Seberang, menuju ke rumah salah seorang paman Salabiah yang bernama Abdullah, dimana rumahnya berdampingan dengan rumah Tuan Guru H. Abdurrahman tokoh ulama masyarakat Tunggul Irang Seberang. Meskipun Masliah bukanlah keponakan ujud (langsung) dari Paman Abdullah, perhatian dan perlakuan beliau terhadap mereka sangatlah baik, padahal kehidupan beliau sendiri sangatlah kekurangan.

Dipilihnya Desa Tunggul Irang Seberang sebagai tempat untuk berlindung adalah karena dianggap paling aman di saat itu. Selama masa Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H. Abdurrahman) tinggal dan dibesarkan di Desa Tunggul Irang tersebut, tentara kolonial tidak pernah menginjakkan kakinya di desa ini. Sebab setiap kali akan menuju desa tersebut, selalu saja mendapat halangan dan rintangan yang tidak terduga, sebagaimana beberapa kali perahu tentara Belanda yang akan melewati Desa Tunggul Irang selalu saja kandas dan tenggelam, dengan alasan yang tidak dimengerti oleh mereka.

Baru beberapa hari tinggal di Desa Tunggul Irang Seberang, tibalah waktunya Masliah akan melahirkan anaknya. Dikala malam bertambah larut, waktu yang terbaik untuk munajat kepada Sang Khalik, ketika angin bertiup lembut, Masliah melahirkan bayinya yang pertama. Malam itu, tepatnya Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan 11 Februari 1942  M, seorang bayi laki-laki mungil lagi montok telah lahir, berkat bantuan seorang bidan yang bernama Datu Anjang. Beliau adalah nenek Tuan Guru Husein Dahlan yang merupakan sepupu dua  kali dengan Masliah.

Sekalipun kehadiran bayi tersebut di malam hari yang kelam, sekelam dan sepekat nasib negeri dan bangsa ini ketika itu, namun betapa bahagia dan bersyukurnya sang ayah, apalagi bagi sang ibu yang telah mengandungnya selama lebih sembilan bulan lamanya.

Sungguh diluar dugaan, bayi yang baru lahir di saat orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya, seharusnya terjaga akibat mendengar tangisannya, sebagaimana layaknya bayi-bayi lain yang baru lahir, ternyata sang bayi tidak menangis, hanya diam tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Matanya tertutup, seperti tidak ada tanda kehidupan. Kejadian itu berlangsung selama hampir satu jam lamanya. Warna kulit badannya sudah mulai membiru. Berbagai macam usaha sudah dicoba, namun bayi itu masih diam, tak ada jerit tangis, sampai-sampai neneknya Salabiah yang juga hadir saat kelahiran bayi tersebut berkata :
“Mati jua cucuku…?”
Bayi yang keadaannya membuat cemas itu kemudian dibawa pergi ke rumah Tuan Guru H. Abdurrahman untuk mendapatkan pertolongan. Setibanya di hadapan Tuan Guru H. Adu, bayi tersebut dipeluk dan ditiupi beliau dengan do’a-do’a, hingga akhirnya samar-samar mulai tampak tanda-tanda kehidupan, nafas sang bayi mulai turun naik, warna kulitnya berangsur-angsur menjadi kemerah-merahan, dan tangisnya pun mulai terdengar.

Sejak tangis sang bayi sudah mulai terdengar, syukur dan puji dihaturkan keharibaan Allah yang Maha Kuasa, sebab Dia-lah yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan, Dia-lah yang merubah dari gelap menjadi terang. Bayi yang tangisannya mulai terdengar, pertanda haus dan lapar telah merasuki perasaannya, maka sang bayi pun diserahkan kepada ibunya yang akan menyusuinya, membelainya dengan sentuhan lembut, serta memberikan perhatian dengan kasih dan sayang.

Bayi yang berada dalam pelukan ibunya terus menangis, hingga keluarga yang hadir ikut berusaha untuk membuatnya terlena dalam pangkuan ibunya. Ibunya berusaha memberikan air susu. Namun tetaplah bayi tersebut menangis. Begitulah seterusnya, bayi tersebut selalu menolak saat diberikan air susu ibunya, apalagi minuman lain. Setelah berjam-jam menangis, bayi yang baru lahir tersebut akhirnya dibawa lagi kepada Tuan Guru H. Adu untuk meminta kembali bantuan beliau.

Sesudah diterima kembali oleh beliau bayi yang masih menangis itu dipangkuannya, beliau menjulurkan lidahnya ke mulut bayi. Maka bayi itupun menghisap lidah beliau dengan lahapnya, seakan-akan ia menyusu kepada ibunya. Setelah ia puas menghisap lidah Tuan Guru H. Adu, maka lidah itupun dilepasnya, sehingga berhenti pulalah tangisan sang bayi. Kejadian seperti ini berulang-ulang hingga beberapa kali.

Suatu ketika Masliah mencoba menyusui anaknya di dalam kamar yang tertutup, tanpa ada orang yang melihat. Tak disangka bayi itu mulai menghisap susu ibunya. Maka mengertilah Masliah bahwa bayinya tersebut seakan-akan enggan menyusu bila dilihat oleh orang lain. Sang bayi sepertinya berusaha memelihara ibunya dari membuka aurat di hadapan orang lain.  Mungkinkah ini salah satu pertanda akan ‘kemuliaan’ sang bayi di masa hidupnya kelak?

Pada hari keenam belas setelah kelahiran tersebut, bayi kecil yang kelihatan masih lemah itu diboyong oleh orang tuanya dari tempat kelahirannya, pindah ke tempat lain, ke sebuah rumah kecil antara Desa Pasayangan dan Desa Keraton Martapura, berjarak kurang lebih satu kilometer dari Desa Tunggul Irang Seberang Martapura, di tempat inilah mereka akan memulai kehidupan yang baru.

Tetapi bagaimanapun juga tempat kelahiran adalah sebuah kenangan. Setiap anak manusia di manapun di dunia ini, tanah kelahiran selalu menyisakan kenangan yang amat khusus, pada gilirannya -seiring berlalunya waktu- ia akan tetap meninggalkan nostalgia, walaupun sekilas riwayat dan cerita didengarnya dari penuturan orang tua tentang tempat kelahiran dan kejadian sesudah kelahirannya, suatu ketika akan terkenang dalam kehidupan setiap orang.

Mungkin yang sangat berkesan justru masyarakat Desa Tunggul Irang Seberang itu sendiri, bahwa desa mereka ditakdirkan oleh Allah Yang Maha Kuasa menjadi persada bagi kelahiran seorang putra yang mereka kenal dari kalangan keluarga yang sangat sederhana namun bermartabat serta berbudi. Sebagaimana masyarakat Islam, baik di dalam maupun di luar negeri mengenalnya di kemudian hari sebagai “Al al-‘Alimul ‘Allamah Al ‘Arif billah As Syeikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani” dari Martapura.

Saat akan meninggalkan Desa Tunggul Irang Seberang, atas do’a dan restu Tuan Guru H. Adu, Abdul Ghani dan istrinya Masliah beserta bayinya yang diberi nama Muhammad Qusyairi[1], beranjak pulang dengan menggunakan sebuah mobil yang disebut masyarakat sekitar dengan Mobil Jamban. Di masa penjajahan Jepang yang terkenal kejam, rasa was-was akan keselamatan menghantui masyarakat Martapura pada masa itu, rombongan di mobil itupun merasakan kekhawatiran serupa. Akhirnya kecemasan yang mencekam  dalam perjalanan pulang itu sirna sudah, rombongan sampai ketujuan dengan selamat berkat bantuan seorang Habib bernama Habib Hasan, yang ikut mengantar mereka hingga ke tujuan. Padahal di hari itu, tidaklah berbeda dengan hari-hari sebelumnya, patroli-patroli dari tentara penjajah yang bertikai masih berkeliaran dimana-mana, namun seakan-akan mereka tidak mendengar atau melihat mobil yang melintas di hadapan mereka, hingga akhirnya sampailah rombongan dengan selamat ke tujuan.

Moga dengan mengisahkan para Aulia Allah akan turun Rahmat bagi kita semua … aamiin

Foto ini adalah Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H. Abdurrahman)

Tuan Guru Haji Abdurrahman (Guru Adu Tunggul Irang) bin Tuan Guru Haji Zainuddin Al-Banjari.  Tuan Guru Haji Abdurrahman (guru Adu) yang setiap malam mengaji kepada gurunya Tuan Guru Haji Said Wali al-Banjari sehingga ia dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan Agama. selain itu beliau juga belajar kepada Tuan Guru Haji Kasyful Anwar al-Banjari di kampung Melayu Martapura


 

Blogroll

Note by Admin :

Syukran telah berkunjung.. Salam Ukhuwah Fillah.. ^o^